Undang-undang

PENETAPAN UNDANG-UNDANG POKOK BANK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1953

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 11 TAHUN 1953
TENTANG
PENETAPAN UNDANG-UNDANG POKOK BANK INDONESIA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa perlu diadakan peraturan-peraturan supaya pimpinan bank
sentral, yang telah dinasionalisasi dengan Undang-undang Nomor 24
tahun 1951, dilakukan menurut kebijsakanaan Pemerintah dalam
lapangan moneter dan perekonomian.
b. bahwa perseroan terbatas “De Javasche Bank, harus diganti dengan
badan baru yakni “Bank Indonesia” yang berbentuk badan-hukum
berdasarkan Undang-undang.
c. bahwa berhubung dengan yang tersebut di atas perlu ditetapkan
peraturan-peraturan pokok tentang bank sentral yang baru;
Mengingat : pasal 89, 109, 110 dan 118 Undang-undang Dasar Sementara Republik
Indonesia;
Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat :
Dewan Perwakilan Rakyat.
MEMUTUSKAN:
PERTAMA : “De Javasche Bankwet 1922” dan Undang-undang tanggal 31 Maret
1922 (Staatsblad 1922 Nr 181) dicabut kembali.
KEDUA : …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 2 –
KEDUA : Menetapkan sebagai berikut:
UNDANG-UNDANG POKOK BANK INDONESIA.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1.
(1) Dengan nama “Bank Indonesia” didirikan suatu bank yang
bermaksud menggantikan De Javasche Bank N.V. dan bertindak
sebagai Bank sentral Indonesia.
(2) Bank Indonesia adalah badan-hukum kepunyaan Negara yang berhak
melakukan tugas-tugas berdasarkan Undang-undang ini.
(3) Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
a. Bank, ialah: Bank Indonesia;
b. Pemerintah, ialah: Presiden Republik Indonesia dengan
persetujuan Dewan Menteri;
c. Direksi, ialah: Gubernur Bank dan anggota-anggota Direksi
lainnya.
Pasal 2
(1) Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan dalam Undangundang
ini maka atas Bank berlaku hukum perdata Eropa dan hukum
dagang Eropa.
(2) Bank dapat …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 3 –
(2) Bank dapat menjalankan hak-hak atas benda tetap yang takluk pada
hukum adat.
(3) Tahun-buku Bank mulai 1 April sampai dengan 31 Maret dari tahun
berikutnya dengan ketentuan, bahwa tahun-buku pertama mulai pada
hari berlakunya undang-undang ini sampai dengan 31 Maret 1954.
Pasal 3
(1)Bank berkedudukan di Jakarta.
(2) Bank mempunyai di Indonesia kantor-kantor agen, kantor-kantor
koresponden dan jika perlu kantor-kantor agen-besar, yang
jumlahnya diatur menurut keperluan untuk menjalankan tugas Bank
dengan semestinya.
(3) Bank dapat mempunyai di luar Indonesia satu atau lebih bankcabang
atau kantor agen-besar, begitu juga korespondenkoresponden
dan wakil-wakil, sekadar hal itu dianggap perlu untuk
menjalankan tugas Bank dengan semestinya.
Pasal 4
Modal Bank berjumlah dua puluh lima juta rupiah.
Pasal 5
(1) Bank mempunyai dana-cadangan, yang dibentuk dan ditambah
menurut yang ditentukan dalam Pasal 34.
(2) Dana- …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 4 –
(2) Dana-cadangan itu gunanya untuk menutup kerugian-kerugian yang
mungkin diderita terhadap modal Bank.
Pasal 6
Bank berhak membentuk cadangan-cadangan istimewa, sesuai dengan
yang ditentukan dalam Pasal 34, begitu juga Bank berhak menarik uang
dari cadangan istimewa itu.
BAB II
TUGAS BANK
Pasal 7
(1) Bank bertugas mengatur nilai satuan-uang Indonesia menurut cara
yang sebaik-baiknya bagi kemakmuran nusa dan bangsa dan dalam
hal itu menjaga sebanyak mungkin supaya nilai itu seimbang
(stabiel).
(2) Bank menyelenggarakan peredaran uang di Indonesia, sekadar
peredaran uang itu terdiri dari uang-kertas bank, mempermudah
jalannya. uang giral di Indonesia dan memajukan jalannya
pembayaran dengan luar negeri.
(3) Bank memajukan perkembangan yang sehat dari urusan kredit dan
urusan Bank di Republik Indonesia pada umumnya dan dari urusan
kredit nasional dan urusan bank nasional pada khususnya.
(4) Bank melakukan pengawasan terhadap urusan kredit.
(5) Menunggu …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 5 –
(5) Menunggu terlaksananya suatu peraturan Undang-undang tentang
pengawasan terhadap urusan kredit maka dengan Peraturan
Pemerintah dapat diadakan peraturan-peraturan lebih lanjut bagi
Bank untuk menjalankan pengawasan termaksud guna kepentingan
kemampuan membayar (“solva-biliteit”) dan kelanjutan keuangan
(“liquiditeit”) badan-badan kredit, begitu juga untuk pemberian
kredit secara sehat dan berdasarkan asas-asas kebijaksanaan bank
yang tepat.
Pasal 8
(1) Dengan tidak memperbolehkan kemungkinan ini bagi yang lain-lain,
Bank berhak mengeluarkan uang-kertas-bank.
(2) Uang-kertasnya itu bersifat alat pembayaran sah sampai setiap
jumlah.
Pasal 9
Uang-kertas-bank itu dapat ditukar di kantor-besar Bank, di kantorkantor
agen-besar dan di kantor-kantor agennya pada tiap hari waktu
jam-kas yang ditetapkan, kecuali pada hari-hari raya yang sah,
sebagaimana ditentukan oleh pembesar yang berkuasa.
Pasal 10
(1) Nilai dan bentuk uang-kertas-bank yang akan dikeluarkan ditentukan
oleh Bank dan diberitahukan kepada umum dengan jalan
pengumuman dalam Berita Negara.
(2) Bank tidak mengeluarkan uang-kertas-bank yang lebih rendah
nilainya daripada Rp. 5,- (lima rupiah).
(3) Uang-kertas-bank …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 6 –
(3) Uang-kertas-bank bebas daripada bea meterai.
(4) Uang-kertas-bank yang mengalir kembali ke dalam kas-kas Bank dan
karena lusuh atau sebab-sebab yang lain dianggap tidak layak lagi
untuk diedarkan kembali diberi tanda oleh Bank dan caranya
diumumkan dengan pengumuman dalam Berita Negara.
(5) Uang-kertas-bank yang diberi tanda demikian tidak berharga dan
tidak perlu ditukar oleh Bank, jika uang-kertas itu karena pencurian
atau dengan cara yang lain diedarkan lagi.
Pasal 11
(1) Bank tidak usah memberi penggantian kerugian jika uang-kertasbank
itu hilang atau musnah.
Bank tidak usah memberi penggantian kerugian untuk bagian-bagian
uang-kertas-bank, kecuali jika ada jaminan-jaminan yang dianggap
perlu untuk mencegah timbulnya kerugian bagi Bank.
(2) Jika ada persangkaan karena kejahatan atau atas permintaan tertulis
oleh yang berkepentingan, maka Bank dibolehkan meminta surat
tanda penerimaan dan penanda tanganan uang-kertas-bank itu kepada
pihak yang menukarkan uang-kertas itu atau menyerahkannya untuk
dikreditkan.
(3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal -pasal 229 i, 229 j dan 229 k dalam
Kitab Undang-undang Perniagaan tidak berlaku terhadap uangkertas-
bank.
Pasal 12 …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 7 –
Pasal 12
(1) Bank dapat mencabut kembali uang-kertas-bank yang
dikeluarkannya serta menariknya dari peredaran dan memanggil
pemegang-pemegang uang-kertas itu untuk menyerahkannya untuk
ditukar.
(2) Bank menetapkan jangka-waktu, dalam mana penyerahan termaksud
pada ayat 1 harus dilakukan.
(3) Pencabutan dan panggilan itu sekurang-kurangnya diumumkan satu
kali oleh Bank dalam Berita Negara.
(4) Sehabis waktu yang termaksud dalam ayat 2 maka uang-kertas-bank
yang tersebut dalam panggilan itu hanya ditukar oleh kantor-besar
Bank, setelah ternyata menurut pemeriksaan, bahwa permintaan akan
menukar itu selayaknya dikabulkan.
(5) Sepuluh tahun sesudah waktu tersebut di atas berakhir, maka jumlah
uang-kertas-bank yang tersebut dalam panggilan tetapi tidak
diserahkan, ditambahkan kepada laba tahun-buku yang sedang
berjalan. Uang-kertas yang masih diserahkan sesudah itu dan telah
diperiksa seperti termaksud dalam ayat 4 ditukar atas beban rekening
laba-rugi.
(6) Sesudah tiga puluh tahun berselang sejak akhir jangka-waktu yang
termaksud dalam ayat 2, maka hak untuk menuntut penukaran uangkertas
yang tersebut dalam panggilan itu tak berlaku lagi.
Pasal 13
Selain mengeluarkan uang-kertas-bank, Bank berhak melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang berikut:
1. memindahkan …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 8 –
1. memindahkan uang, baik dengan pemberitahuan secara telegram,
maupun dengan surat, ataupun dengan jalan memberikan weseltunjuk
di antara sesama kantor-kantornya, penarikan atas saldi kredit
yang ada pada koresponden-koresponden hanya boleh dilakukan
secara telegram atau dengan wesel-tunjuk;
2. menerima dan membayarkan kembali uang-uang dalam rekeningkoran,
menjalankan perintah-perintah untuk pemindahan uang,
menerima pembayaran dari tagihan atas kertas-kertas berharga dan
melakukan perhitungan dengan atau antara pihak ketiga;
3. mendiskonto:
a. surat-surat wesel dan surat-surat order dengan dua penanggungjawab
atau lebih secara solider dan dengan masa berlaku yang
tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan;
b. surat-surat wesel dan kertas-dagang yang lain yang tidak lebih
lama masa berlakunya daripada kebiasaan dalam perdagangan,
baik yang ditarik dengan jaminan surat-surat-kredit, maupun
dengan jaminan dokumen-dokumen-pengangkutan dengan kapal;
c. kertas-perbendaharaan atas beban Republik Indonesia,
d. surat-surat-utang dengan pelunasan dalam enam bulan dan
selamanya diskontannya turut bertanggung-jawab secara solider;
e. mandat-mandat yang dikeluarkan di Indonesia atau ordonansiordonansi
atas Kas-kas Negeri untuk rendemen-rendemen-lelang;
4. membeli dan menjual:
a. wesel-wesel yang diakseptasi oleh bank-bank yang menjalankan
perusahaannya di Indonesia dan yang waktu berlakunya tidak
lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan;
b. kertas- …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 9 –
b. kertas-perbendaharaan atas beban Republik Indonesia;
c. surat-surat-utang yang tercatat pada suatu bursa-effek yang resmi
di Indonesia atas beban Republik Indonesia atau bunganya atau
pelunasannya dijamin oleh Republik Indonesia;
5. membeli dan menjual pembayaran-pembayaran dengan surat dan
secara telegram, cek-cek, surat-surat wesel dan kertas-dagang yang
lain, satu dan lain dibayar di luar negeri, yang masa berlakunya –
sekadar berlaku atas hal ini – tidak lebih lama daripada kebiasaan
dalam perdagangan dan:
a. dengan dua penanggung-jawab atau lebih secara solider; atau
b. ditarik dengan jaminan surat-surat-kredit atau
c. dengan jaminan dokumen-dokumen-pengangkutan dengan kapal;
6. memberi uang-muka secara penggadaian atau dalam rekening-koran
dan memberikan jaminan dengan tanggungan effek-effek, hasil
bumi, barang-barang, mata-uang dan bahan mata-uang, juga dengan
tanggungan dokumen-dokumen-pengangkutan dengan kapal dan
dokumen-dokumen penyimpanan atau cedul-cedul yang mewakili
barang-barang itu, begitu juga dengan tanggungan kertas-kertas
berharga termaksud pada angka-angka 3 dan 5, yang mewakili
barang-barang itu;
7. menjalankan untuk sementara waktu uang yang ada pada bankcabang,
kantor-kantor agen-besar dan pada korespondenkoresponden
di luar negeri, sekadar uang itu tidak segera diperlukan,
baik dalam kertas perbendaharaan luar negeri atau dengan
mendiskonto kertas-kertas berharga sebagaimana termaksud pada
angka 3 huruf a dan d, maupun menurut cara lain yang biasa pada
bursa;
8. a. Bertindak …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 10 –
8. a. bertindak sebagai pemegang kuasa atau bankir Pemerintah
Republik Indonesia pada transaksi-transaksi keuangan;
b. memberi bantuan teknis pada perjanjian-perjanjian dengan
negara-negara asing dan organisasi-organisasi luar negeri atau
internasional, kedua-duanya atas permintaan Pemerintah;
9. mengurus dan menyelenggarakan administrasi persediaan alat-alat
pembayaran luar negeri Republik Indonesia;
10. perdagangan logam mulia, mata-uang dan kertas-bank luar negeri
dan memeriksa kadar serta memurnikan dan menyuruh memeriksa
kadar serta menyuruh memurnikan bijih-bijih dan logam-logam;
11.menyimpan effek-effek, barang-barang, cedul-cedul, akta-akta,
barang-barang kemas-kemas dan benda-benda lain yang berharga
atas syarat-syarat yang diumumkan oleh Bank, jika dikehendaki,
dengan penyelenggaraan administrasinya;
12.menyewakan lemari-lemari besi atau ruangan-ruangan lain
gedungnya.
Pasal 14
(1) Dalam hipotik-hipotik untuk keperluan Bank sekali-kali tidak boleh
ditanam lebih daripada satu persepuluh modal Bank dan satu perlima
daripada dana-cadangan.
(2) Hipotik sekali-kali tidak boleh melebihi dua pertiga bahagian dari
harga nilai barang tetapnya dan hanya boleh diadakan dengan
jangka-waktu penghentian selambat-lambatnya enam bulan.
Pasal 15 …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 11 –
Pasal 15
(1) Bank tidak memberi kredit atau uang-muka blanko kepada barang
siapa pun. Dalam kredit atau uang-muka blanko tidak termasuk
perbuatan mempercayakan untuk kepentingan Bank sendiri uang
atau barang-barang kepada penerima kuasa yang tidak bekerja tetap
pada Bank.
(2) Bank tidak ikut serta dalam perusahaan perdagangan dan kerajinan
atau perusahaan manapun juga.
(3) Dengan tidak mengurangi yang ditentukan dalam angka 4 huruf c
Pasal 13 dan dalam ayat pertama Pasal 17 maka Bank tidak membeli
dan tidak menjual hasil bumi, barang, effek atau barang tetap,
kecuali pada penyitaan barang-barang tetap atau hasil bumi, barangbarang,
effek-effek atau tanggungan lain, yang terikat kepada Bank,
sebagai jaminan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap
Bank itu.
Dalam hal terakhir ini Bank berhak membeli seluruh atau sebagian
dari barang tetap atau hasil bumi, barang-barang, effek-effek atau
tanggungan yang lain itu untuk dijadikan uang kembali dengan
selekas-lekasnya.
(4) Kecuali yang ditentukan dalam ayat 3, maka Bank tidak membeli
atau mempunyai barang-barang tetap selain yang diperlukannya
untuk menjalankan perusahaannya dan bagi perumahan para
pegawainya.
(5) Bank tidak memberi uang-muka dengan kapal sebagai tanggungan.
Pasal 16 …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 12 –
Pasal 16
(1) Jumlah semua uang-kertas-bank, saldo rekening-koran dan tagihantagihan
lain yang segera dapat ditagih dari Bank harus satu perlima
dijamin dengan emas, mata-uang emas, bahan mata-uang emas atau
cadangan yang terdiri atas alat-alat pembayaran luar negeri yang
umumnya dapat ditukar-tukarkan, begitu pula dengan hak-hak atas
International Monetary Fund dan Worldbank yang diserahkan atau
akan diserahkan kepada Bank dengan Undang-undang.
(2) Jaminan yang termaksud dalam ayat 1 sekurang-kurangnya satu
perlima bahagian harus ada di Indonesia.
(3) Dalam keadaan luar biasa Bank dapat menentukan, bahwa untuk
sesuatu masa selama-lamanya tiga bulan Bank boleh menyimpang
daripada peraturan ayat 1 pasal ini sampai pada suatu batas yang
ditentukan pada waktu itu.
(4) Keputusan yang diambil menurut ayat ketiga dimuat dalam
Tambahan Lembaran Negara dan dalam Berita Negara.
(5) Bilamana Bank dalam waktu tiga bulan yang dimaksudkan dalam
ayat 3 pasal ini tidak dapat mengembalikan keadaan seperti
tercantum dalam ayat 1 pasal ini, maka Pemerintah mengajukan
permintaan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk memperpanjang
waktu tersebut dalam ayat 3 pasal ini dengan tiga bulan lagi.
Pasal 17
(1) Bank berhak menanam modal Bank, dana-cadangan dan cadangan
istimewanya.
(2) Penghasilan …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 13 –
(2) Penghasilan yang diperoleh daripada penanaman uang termaksud
dimasukkan sebagai laba Bank.
Bertambah atau berkurangnya nilai harta-benda, yang dalamnya
ditanamkan modal Bank dan dana-cadangan ataupun cadangan
istimewa itu, dimasukkan sebagai keuntungan atau kerugian atas
dana-cadangan atau cadangan istimewa itu.
Sekadar hal itu berhubung dengan yang ditetapkan pada Pasal 34
tidak mungkin dilakukan terhadap dana-cadangan, maka tambahan
atau kekurangan itu dimasukkan ke dalam rekening laba-rugi Bank.
Pasal 18
(1) Bank wajib menyelenggarakan penyimpanan kas umum Negara
dengan cuma-cuma dan bertindak sebagai pemegang-kas Republik
Indonesia, baik di Jakarta maupun pada segala tempat di mana bankcabang
atau kantor-agen-besar dan kantor agennya ada atau akan
diadakan. Terhadap segala sesuatu mengenai hal ini Bank
bertanggung-jawab kepada Menteri Keuangan dan wajib
memberikan perhitungan kepada Dewan Pengawas Keuangan.
(2) Bank wajib menyelenggarakan dengan cuma-cuma pemindahan uang
untuk Republik Indonesia di antara kantor-besar, kantor-kantor agen
besar dan kantor-kantor agennya dan di antara kantor-kantor agen
besar dan kantor-kantor agennya sesamanya, sepanjang kantor-kantor
ini tidak berkedudukan di luar negeri.
(3) Bank wajib menjadi pemegang-kas Bank Tabungan Pos dengan
cuma-cuma dan menyimpan benda-benda berharga milik badan itu
atau yang menjadi tanggungan pada badan itu, begitu pula jika
Menteri Keuangan menganggap perlu, maka Bank wajib dengan
cuma-cuma menjadi pemegang-kas badan-badan lain yang didirikan
dengan undang-undang dan menyimpan semua benda-benda
berharga kepunyaan Republik Indonesia dan badan-badan itu.
(4) Bank …
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 14 –
(4) Bank wajib memberikan bantuannya dengan cuma-cuma untuk
mengeluarkan dengan langsung surat-surat-utang atas beban
Republik Indonesia, demikian pula.untuk membayar dengan cumacuma
kupon dan surat-utang yang telah diundikan di atas kepada
para pemegangnya, atas beban rekening kas-Negara di tempat
pembayaran itu.
Pasal 19
(1) Dengan tidak mengurangi yang ditentukan dalam Pasal 16 dan
menyimpang daripada yang ditentukan pada ayat pertama Pasal 15,
Bank wajib setiap kali Menteri Keuangan menganggap hal ini perlu
untuk menguatkan kas-Negara sementara waktu, memberikan uangmuka
dalam rekening-koran kepada Republik Indonesia, yang
diadakan atas tanggungan yang cukup dalam kertas-perbendaharaan
dan yang pengeluaran atau penggadaiannya akan diizinkan dengan
atau berdasarkan undang-undang.
(2) Uang-muka tersebut dalam ayat 1 tidak boleh lebih daripada 30%
(tiga puluh perseratus) dari penghasilan Negara dalam tahun
anggaran, yang mendahului tahun anggaran, pada waktu mana
Pemerintah meminta uang-muka itu kepada Bank.
(3) Batas uang-muka seperti tersebut dalam ayat 2 pasal ini hanya boleh
dilampaui dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
(4) Daripada seluruh jumlah uang-muka itu sejumlah Rp. 50.000. 000,-
(lima puluh juta rupiah) tidak berbunga.
Pasal 20 …
Pasal 20
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 15 –
Untuk kepentingan umum Bank dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan
yang lain daripada yang tersebut dalam Undang-undang ini.
Keputusan tentang hal itu dimuat dalam Tambahan Lembaran Negara
dan Berita Negara.
BAB III
TENTANG DEWAN MONETER, DIREKSI DAN
DEWAN PENASEHAT
Pasal 21
Bank Indonesia dipimpin oleh:
a. Dewan Moneter,
b. Direksi dan
c. Dewan Penasehat,
yang tugas dan susunannya ditetapkan dalam pasal-pasal berikut.
a. Dewan Moneter
Pasal 22
(1) Tugas Dewan Moneter ialah:
a. menetapkan kebijaksanaan moneter umum dari Bank;
b. memberi petunjuk-petunjuk kepada Direksi tentang
kebijaksanaan Bank dalam urusan-urusannya yang lain, sekadar
kepentingan umum memerlukannya;
c. pekerjaan- …
c. pekerjaan-pekerjaan Bank sebagai tersebut dalam Pasal 7 ayat 1,
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 16 –
3 dan 4, Pasal 13 ayat 9, Pasal 16 ayat 3 dan Pasal 20, begitu pula
penetapan tarip-tarip bunga dari Bank yang bagaimanapun juga
dianggap sebagai urusan kebijaksanaan moneter umum atau
urusan Bank yang mengenai kepentingan umum.
(2) Tanggung-jawab atas kebijaksanaan moneter berada pada
Pemerintah.
Pasal 23
(1) Dewan Moneter terdiri atas tiga orang anggota yang mempunyai hak
suara, yakni Menteri Keuangan, Menteri Perekonomian dan
Gubernur Bank.
(2) Jika ternyata perlu, maka Pemerintah dengan mengadakan
pengangkatan untuk masa selama-lamanya lima tahun dapat
menambahkan seorang atau dua orang anggota penasihat kepada
Dewan Moneter, yang berjasa dalam lapangan ilmu-pengetahuan.
(3) Jika Pemerintah hendak mengangkat seorang anggota penasihat,
maka ia meminta supaya Dewan Moneter membuat suatu daftaranjuran
yang memuat dua orang untuk tiap-tiap lowongan yang akan
diisi.
Pemerintah dapat memperhatikan daftar-anjuran itu sebagaimana
dianggapnya perlu.
(4) Uang-jasa bagi anggota yang termaksud dalam ayat 2 ditetapkan oleh
Pemerintah.
(5) Setelah …
(5) Setelah meletakkan jabatannya karena masa pengangkatannya
berakhir, maka anggota-anggota penasihat pada Dewan Moneter
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 17 –
pada saat sesudah berhentinya dapat diangkat kembali.
Mereka dapat dipecat atau diperhentikan oleh Pemerintah dari
keanggotaannya.
(6) Di dalam pembicaraan mengenai hal-hal yang pada hakekatnya
bersifat teknis, anggota-anggota Dewan Moneter masing-masing
berhak menunjuk seorang penasihat yang dapat menghadiri sidangsidang
Dewan.
Pasal 24
(1) Jabatan Ketua Dewan Moneter dipangku oleh Menteri Keuangan,
jika beliau tidak ada, maka Gubernur menggantikannya.
(2) Seorang anggota Dewan Moneter yang dimaksud dalam pasal 23
ayat 1 wajib menunjuk seorang wakil, yang jika anggota tersebut di
atas tidak ada, dengan surat kuasa dapat turut serta pada sidangsidang
dan dapat memberikan suara.
(3) Keputusan Dewan Moneter diambil dengan suara terbanyak.
Jika suara sama banyak, maka usul bersangkutan dianggap tidak
diterima.
(4) Seorang anggota Dewan Moneter yang kalah suara dalam Dewan itu
berhak dalam waktu satu minggu meminta, supaya pokok pertikaian
itu diajukan kepada Dewan Menteri untuk diputuskan.
Sambil menunggu keputusan Dewan Menteri, maka selanjutnya
seorang anggota dapat meminta, supaya keputusan yang diambil oleh
Dewan Moneter itu ditunda pelaksanaannya dan permintaan
penundaan itu dikabulkan, kecuali jika Dewan Moneter dalam hal
yang sangat mendesak lain keputusannya.
(5) Jika …
(5) Jika pendapatnya tidak dibenarkan dalam hal yang termaksud dalam
ayat 4 pasal ini, maka Gubernur berhak mengumumkan pendiriannya
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 18 –
dalam Berita Negara, jika menurut anggapan Dewan Menteri hal ini
tidak bertentangan dengan kepentingan Negara.
(6) Notulen Dewan Moneter adalah rahasia, jika Pemerintah
menghendakinya, maka ia dapat melihatnya.
(7) Dewan Moneter sekurang-kurangnya bersidang sekali empat belas
hari dan selanjutnya setiap kali salah seorang anggota yang
mempunyai hak-suara atau yang menjadi penasihat menyatakan
keinginannya.
(8) Tata-tertib dan cara menjalankan pekerjaan Dewan Moneter, begitu
juga peraturan selanjutnya tentang perhubungan ke dalam antara
Dewan Moneter dan Direksi ditetapkan dalam dua peraturan yang
akan disusun oleh Dewan Moneter.
(9) Dewan Moneter mengangkat sendiri seorang sekretaris yang harus
warganegara Indonesia, begitu pula pegawai-pegawai lain dari
Dewan Moneter diangkat dan diperhentikan oleh Dewan.
Pasal 25
(1) Anggota Dewan Moneter tidak boleh berdagang atau mempunyai
kepentingan pada salah satu perusahaan manapun juga, baik
langsung maupun tidak langsung.
(2) Antara anggota-anggota Dewan Moneter dan para Direksi satu sama
lain tidak boleh ada pertalian darah atau periparan pada atau dalam
derajat ketiga, kecuali jika diizinkan oleh Pemerintah.
Jika …
Jika sesudah pengangkatan mereka masuk periparan yang terlarang
itu, maka mereka tidak boleh terus memangku jabatannya tidak
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 19 –
seizin Pemerintah.
b. Direksi
Pasal 26
Tugas Direksi ialah.
a. menyelenggarakan kebijaksanaan moneter umum yang telah
ditetapkan oleh Dewan Moneter,
b. menyelenggarakan pemberian kredit oleh Bank, teristimewa
mengenai pemberian dan untuk memperpanjang kredit dengan
penetapan syarat-syarat yang berhubungan dengan kredit-kredit
tersebut, begitu pula untuk menghentikan kredit yang lagi berjalan
dan menolak pemberian kredit,
c. menyelenggarakan segala pekerjaan Bank yang lain dengan
memperhatikan Pasal 22 ayat 1 huruf b dan c.
Pasal 27
(1) Direksi terdiri atas Gubernur dengan sekurang-kurangnya dua orang
Direktur.
Atas usul Dewan Moneter maka jumlah anggota Direksi dapat
ditambah oleh Pemerintah sampai sebanyak-banyaknya lima orang.
(2) Jika …
(2) Jika Gubernur tidak ada, maka kekuasaan-kekuasaannya dijalankan
oleh seorang Gubernur-pengganti yang diangkat oleh Pemerintah
atas usul Dewan Moneter daripada Direktur-direktur yang lain untuk
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 20 –
waktu selama-lamanya lima tahun.
(3) Gubernur dan para Direktur diangkat oleh Pemerintah setiap kali
untuk waktu selama-lamanya lima tahun atas suatu usul yang
memuat nama dua orang yang diajukan oleh Dewan Moneter kepada
Pemerintah bagi tiap kali pengangkatan.
Pemerintah mengangkat salah seorang dari calon-calon yang dimuat
dalam daftar usul yang bersangkutan.
(4) Gaji dan pendapatan lainnya bagi Gubernur dan Direktur-direktur
ditetapkan oleh Pemerintah.
(5) Semua anggota Direksi yang berhenti dapat lantas diangkat kembali
pada saat sesudah mereka berhenti.
(6) Atas usul Dewan Moneter tiap-tiap anggota Direksi dapat dipecat
atau diperhentikan oleh Pemerintah dari jabatannya.
Jika diusulkan pemecatan, maka diadakan suatu usul pula untuk
mengisi jabatan itu untuk sementara waktu.
(7) Anggota-anggota Direksi harus warganegara Indonesia.
(8) Untuk membantu Direksi, maka Direksi dapat meminta kepada
Dewan Moneter untuk mengangkat seorang penasihat atau lebih
untuk masa selama-lamanya lima tahun.
Mereka itu dapat dipecat atau diperhentikan oleh Dewan Moneter.
Pasal 28 …
Pasal 28
(1) Jika seorang Direktur sakit atau tidak ada, maka Direktur yang
bersangkutan untuk sementara waktu diwakili oleh seorang Direkturpengganti.
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 21 –
(2) Direktur-pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya dua orang
diangkat oleh Pemerintah untuk masa lima tahun atas usul Dewan
Moneter.
(3) Direktur-pengganti harus penjabat dari Bank.
Pasal 29
(1) Direksi mewakili Bank di hadapan dan di luar pengadilan.
Dengan memperhatikan Pasal 22, maka Direksi memimpin Bank,
mengurus milik mutlak Bank dan berhak menguasai atau
menjalankan segala tindakan pemilihan mutlak terhadap milikmutlak
itu.
(2) Tata-tertib dan cara menjalankan pekerjaan Direksi dimuat dalam
suatu peraturan yang akan ditetapkan oleh Direksi.
(3) Pengurus bank-cabang, agen-agen besar, agen-agen, korespondenkoresponden
dan semua penjabat serta lain-lain pegawai Bank
diangkat dan diperhentikan oleh Direksi.
Pasal 30
(1) Anggota Direksi dan penasihat-penasihat yang tersebut dalam Pasal
27 ayat 8 tidak boleh memangku pekerjaan, jabatan atau tugas lain
yang digaji.
(2) Tidak termasuk dalam hal itu ialah:
a. jabatan …
a. jabatan yang dipikulkan Pemerintah kepadanya;
b. bagi para Direktur dan penasihat-penasihat: pekerjaan komisaris
pada perseroan terbatas atau perseroan komanditer, asal saja tidak
menjadi komisaris-amanat (gedelegeerd commissaris).
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 22 –
Para Direktur dan penasihat-penasihat tidak boleh tetap
memegang atau menerima suatu pekerjaan yang tersebut dalam
sub b kecuali jika mendapat izin dari Dewan Moneter.
(3) Dua orang Direktur tidak boleh bersama-sama menjadi komisaris
pada suatu perseroan.
(4) Anggota Direksi dan penasihat-penasihat yang tersebut di atas tidak
boleh berdagang atau mempunyai kepentingan pada usaha dagang
manapun juga.
Pasal 31
Pada akhir tiap-tiap tahun-buku Gubernur, sesudah berunding dengan
Dewan Moneter, memberikan laporan keuangan dan ekonomi yang luas.
Dewan Penasihat
Pasal 32
(1) Tugas Dewan Penasihat ialah memberi nasihat kepada Dewan
Moneter, atas permintaan atau tidak atas permintaan Dewan
Moneter, tentang segala urusan Dewan Moneter dengan maksud
supaya Dewan ini antara lain mengetahui dengan sebaik-baiknya
aliran-aliran yang terdapat tentang urusan itu dalam masyarakat.
Dewan …
Dewan Penasihat berhak mengumumkan nasihat-nasihatnya, sekadar
hal itu oleh Pemerintah tidak dianggap bertentangan dengan
kepentingan Negara.
Ketika memberikan nasihat kepada Dewan Moneter, maka pendapat
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 23 –
dari seorang anggota yang berbeda dengan pendapat terbanyak dan
anggota-anggota lain, dinyatakan dengan terpisah, yakni jika ketua
atau anggota tersebut memintanya.
2) Dewan Penasihat terdiri atas 9 orang anggota, termasuk ketua.
Ketua dan anggota-anggota yang lain ditunjuk oleh Pemerintah
untuk masa lima tahun dari orang-orang ahli dan/atau terkemuka
dalam kalangan perusahaan, pertanian dan perburuhan.
Pemerintah dapat memecat dan memperhentikan mereka itu dan
jabatannya.
Anggota-anggota yang berhenti dapat diangkat kembali pada saat
sesudah mereka berhenti.
Jika sementara itu terjadi lowongan, maka anggota yang baru
diangkat itu, menggantikan orang yang digantikannya itu untuk
selama sisa masa duduk orang yang digantikannya itu.
(3) Dewan Penasihat sekurang-kurangnya bersidang dua kali setahun
dan selanjutnya setiap kali dianggap perlu oleh ketua atau sekurangkurangnya
oleh empat orang anggota.
(4) Anggota Dewan Moneter dapat menghadiri rapat-rapat Dewan
Penasihat.
(5) Anggota-anggota dan Sekretaris Dewan diwajibkan merahasiakan
segala yang diketahui mereka menurut jabatannya, sekadar
kewajiban itu sudah sepatutnya menurut sifat hal yang bersangkutan
atau dinyatakan dengan tegas oleh ketua.
Jika …
Jika kewajiban merahasiakan itu dilanggar, maka pelanggaran itu
dapat menjadi alasan bagi Pemerintah untuk memecat atau
memperhentikan orang yang bersangkutan.
(6) Dewan menetapkan suatu peraturan tata-tertib.
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 24 –
(7) Uang-jasa bagi anggota-anggota Dewan Penasihat ditetapkan oleh
Pemerintah.
(8) Direksi Bank menunjuk seorang sekretaris bagi Dewan Penasihat.
BAB IV
NERACA SINGKAT
Pasal 33
(1) Sekali seminggu Bank mengumumkan neraca singkat.
Neraca singkat ini harus juga dimuat dalam Berita Negara.
(2) Pekerjaan-pekerjaan Bank yang dilakukannya sebagai Bank Sentral
dan pekerjaan-pekerjaan yang terletak dalam lapangan bank-bank
yang lain dipisahkan dengan sejelas-jelasnya dalam neraca singkat
ini.
BAB V
PENETAPAN SURAT-SURAT TAHUNAN DAN
PEMBAGIAN LABA
Pasal 34
(1) Neraca dan perhitungan laba-rugi disusun oleh Direksi dan
disampaikan kepada Dewan Moneter.
(2) Dewan …
(2) Dewan Moneter menetapkan surat-surat tahunan ini untuk sementara
waktu dan dalam hal itu Dewan dibantu oleh Jawatan Akuntan
Negeri.
(3) Selanjutnya neraca dan perhitungan laba-rugi sementara itu
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 25 –
diserahkan oleh Dewan Moneter kepada Pemerintah.
Jika dalam waktu satu bulan sesudah Pemerintah menerima suratsurat
itu, tidak diajukan keberatan-keberatan dengan surat oleh
Menteri Keuangan kepada Dewan Moneter, maka itu berarti bahwa
surat-surat tahunan itu telah disahkan oleh Pemerintah.
(4) Neraca dan perhitungan laba-rugi yang disahkan demikian memberi
pembebasan sepenuhnya kepada Direksi.
(5) Dari laba Bank yang telah disahkan demikian pertama-tama dapat
disisihkan dahulu suatu jumlah bagi cadangan istimewa, sisa dari
laba ini disetor sebanyak dua puluh prosen ke dalam dana-cadangan
sampai jumlah dana itu menjadi sama besar dengan modal Bank.
Sisanya jatuh ke dalam tangan Negara.
BAB VI
DANA PENSIUN DAN SOKONGAN PARA PEGAWAI BANK
Pasal 35
(1) Bank mengadakan dana pensiun dan sokongan untuk para pegawai
Bank.
(2) Bank wajib mengusahakan supaya dana ini mencapai jumlah harga
tunai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi terhadap para
pegawai Bank, juga Bank wajib menjaga supaya jumlah harga tunai
itu jangan berkurang.
(3) Sumbangan-sumbangan …
(3) Sumbangan-sumbangan Bank kepada dana dan peraturan-peraturan
selanjutnya tentang dana ini ditentukan dengan suatu peraturan.
BAB VII
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 26 –
KETENTUAN PERALIHAN DAN KETENTUAN PENUTUP
Pasal 36
(1) Pada hari mulai berlakunya undang-undang ini, maka:
a. De Javasche Bank NV berada dalam likwidasi;
b. segala hak-hak, kekuasaan-kekuasaan, hutang-hutang dan
kewajiban-kewajiban dari De Javasche Bank NV pindah kepada
Bank Indonesia;
c. Bank Indonesia menjadi pelikwidasi dari De. Javasche Bank NV;
d. Sekadar perlu berhubung dengan likwidasi de Javasche Bank
NV, maka Presiden dan Direktur-direktur De Javasche Bank NV
masih bertindak terus.
(2) Segala ketentuan dalam Pasal 13 yang mengenai pekerjaan-pekerjaan
Bank di lapangan lain daripada fungsi sebagai bank sentral dan bank
sirkulasi, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya diserahkan kepada
bank-bank lain yang akan ditunjuk dengan Undang-undang
selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember 1953.
Pasal 37
“De Javasche Bankwet 1922” dan Undang-undang tanggal 31 Maret
1922 (Staatsblad 1922 No. 181) masih berlaku sekadar perlu berhubung
dengan likwidasi De Javasche Bank NV dan selanjutnya tidak
bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang ini.
Pasal 38 …
Pasal 38
(1) Menyimpang dari anjuran-anjuran dan usul-usul yang diharuskan
dalam Undang-undang pokok ini maka Presiden dan Direkturdirektur
De Javasche Bank yang memangku jabatannya sebelum
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 27 –
Undang-undang ini mulai berlaku, jika mereka itu warganegara
Indonesia, menjadi Gubernur dan Direktur-direktur Bank untuk
bagian masa-jabatannya yang belum berakhir.
(2) Direktur-direktur De Javasche Bank yang bukan warganegara
Indonesia, meletakkan jabatannya pada hari mulai berlakunya
Undang-undang ini.
(3) Komisaris-komisaris De Javasche Bank yang memangku jabatannya
sebelum hari Undang-undang ini mulai berlaku, meletakkan
jabatannya pada hari itu.
Komisaris baru tidak diangkat lagi.
Pasal 39
Pengangkatan para anggota Dewan Penasihat oleh Pemerintah untuk
pertama kalinya dilakukan pada suatu waktu dalam tiga bulan sesudah
undang-undang ini mulai berlaku.
Pasal 40
Pada waktu Undang-undang,ini mulai berlaku dan menyimpang
daripada yang ditentukan dalam Pasal-pasal 8 dan 10, maka:
a. uang-kertas-bank …
a. uang-kertas-bank yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank
berdasarkan Pasal 14 “De Javasche Bankwet 1922” dan yang pada
waktu itu mempunyai sifat alat pembayaran sah;
b. uang-kertas-bank yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank menurut
Pasal 1 Ordonansi 14 Juli 1949 (Staatsblad 1949 No. 186) dan yang
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 28 –
pada waktu itu mempunyai sifat alat pembayaran sah;
tetap sifatnya sebagai alat pembayaran sah sampai uang-kertas-bank
itu dicabut kembali dan ditarik dari peredaran.
Pasal 41
Nama “Bank Indonesia” hanya boleh dipakai oleh Bank.
Pasal 42
(1) Semua persekot dalam rekening-koran yang diberikan oleh De
Javasche Bank kepada Pemerintah sebelum undang-undang ini mulai
berlaku, akan dipisahkan menjadi pinjaman dengan jangka waktu
panjang yang dapat dilunasi.
(2) Untuk keperluan pelunasan pinjaman kepada Bank yang tersebut
pada ayat 1, Negara dapat mengeluarkan pinjaman yang dapat
ditawarkan pada Bursa dengan syarat-syarat yang akan ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 43
(1) Undang-undang ini dapat disebut “UNDANG-UNDANG POKOK
BANK INDONESIA 1953”.
(2) Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1953.
Agar …
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
– 29 –
pada tanggal 19 Mei 1953
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
SUKARNO
MENTERI KEUANGAN,
ttd
SUMITRO JOYOHADIKUSUMO
Diundangkan
pada tanggal 2 Juni 1953
MENTERI KEHAKIMAN,
ttd
LOEKMAN WIRIADINATA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1953 NOMOR 40

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close